creative commons logo

share by nc nd

Artikel boleh diredistribusi/disalin dengan syarat ditandai penulisnya, tidak dijual, dan syarat ini tidak boleh dirubah. Baca selengkapnya.

Kamis, 28 Februari 2008

Diciduk Dari Perempatan Terlarang #1

Jalan veteran sejak dulu merupakan lokasi alternatif bagi para pekerja seks komersial, terutama wanita, untuk menjajakan dirinya. Saat malam minggu tiba, walaupun masih bisa dihitung dengan jari, kita sendiri bisa melihat, beberapa pekerja seks, sibuk berbincang, menawarkan diri, dan memberi kepuasaan sesaat, di tempat, ataupun ditempat lain yang diinginkan. Sedikit lebih malam saja, sebutlah jam satu atau dua pagi. Para pekerja semakin berani, mereka yang jasanya belum laku atau belum terjual, mulai berani membuka diri. Ya, membuka diri dalam arti yang sebenarnya.

Mungkin sebenarnya tidak terlalu terbuka juga, masih terbalut kain kain tipis, yang... kalau disorot oleh lampu mobil, kita tidak perlu repot untuk melihat susu ataupun memek dari para pekerja seks komersial itu.

Kamis, 16 November 2006

Sengsara Membawa Nikmat

Maaf, ini bukan judul sinetron atau drama jadoel, Sengsara Membawa Nikmat yang menceritakan tokoh terkenal bernama Midun itu. Ini adalah sengsara membawa nikmat yang lain. Sengsara, dalam arti kata rasa sakit, namun juga mampu membawa kenikmatan bagi yang menyukainya.

Bondage, Domination, Discipline, Sado, Slave, Masochism, Master. Walaupun terdiri dari tujuh kata untuk tujuh definisi yang berbeda, mereka hanya disingkat BDSM. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh ketujuh kata tersebut mempunyai “rasa” yang berbeda beda. Setiap dirinya mempunyai pelakon sendiri. Banyak yang memiliki satu kemampuan saja, dan sangat jarang yang memiliki 6 atau 7 kemampuan sekaligus.

Selasa, 22 Agustus 2006

Sensitif Banget Sih Elo?

There's a man, he's cry only when his mother died.

There's a man, he's cry only when his car crashed.

There's a man, he's cry only when somebody say love.

There's a man, he's cry only when he needed to.

And, there's a man...

He's cry in anything happened..

Kesensitifan adalah sifat asli manusia. Tidak ada yang bisa menolak itu. Seperti sifat manusia lainnya, ada yang memiliki rasa sensitif yang kurang, ada yang berlebih.

Rabu, 16 Agustus 2006

Buka Lapak

Ketika kamu menginjakkan kaki di Gasibu,
waktu adalah hal yang penting.
Salah-salah, bukannya dapat sesuatu yang menyenangkan,
kamu mungkin pulang dengan muka cemberut.

Lingkaran Gasibu hidup selama 24 jam sehari 7 hari seminggu. Setidaknya, sampai kemarin ketika Gasibu ditutup sementara karena akan menjadi tempat upacara bendera saat peringatan 17 Agustus.

Selasa, 08 Agustus 2006

Dilarang Menjajakan Cinta

Perda K3 alias Keamanan, Ketertiban dan Keindahan, hampir bermasalah di semua kota. Bukan masalah isinya, tapi kebanyakan menjadi masalah dalam penegakannya. Alih alih membuat kota menjadi indah, aman dan tertib. Perda seperti ini menjadi ajang suap sana suap sini bagi beberapa oknum pegawai negeri sipil, dan aparat terkait lainnya.

Namun, di Bandung, diantara lebih dari 50 ayat "pelanggaran" dan denda denda, ada satu pasal yang menggelitik. Bukan karena dendanya, tetapi karena konsep pelanggaran yang diperkenakan. Saya pikir, tidak ada satupun manusia di bumi ini melakukannya.

Selasa, 01 Agustus 2006

Polisi dan Prajurit Homoseks, Antara Ada dan Tiada #3

"Kenapa kau tak pernah ada di sisiku???"
"Kenapa kau selalu tak disampingku jika aku membutuhkan???"
"Kenapa kau kerja 24 jam, tidur 12 jam, bercinta 4 jam, dan makan 2 jam???"
"Mana waktumu untuk mendengarkan diriku???"

Negara nomor satu, kau nomor dua.

Yang paling umum dihadapi oleh pasangan pekerja berseragam, polisi, prajurit, security dan sebagainya adalah waktu untuk kebersamaan  yang sempit. Semuanya mengalaminya, baik yang homoseks maupun yang heteroseks. Semua kesulitan.

Senin, 24 Juli 2006

Polisi dan Prajurit Homoseks, Antara Ada dan Tiada #2

Indonesia, adalah satu negara yang beruntung dari dua ratus negara lain yang ada di dunia. Indonesia katanya memiliki kebudayaan yang sangat tinggi, dan yang pasti, sangat beragam. Keberagaman inilah tampaknya yang mendorong keberagaman juga dalam penafsiran suatu hukum yang ada di republik ini. Hukum, yang seharusnya tegas, memiliki satu definisi, adil, dan tidak berat sebelah, nyatanya masih bisa dibaca berbeda beda oleh setiap kepala.

Perbedaan ini lebih didasari hukum Indonesia yang masih mengagung-agungkan kata moralitas dan etika. Ya, moralitas dan etika diatas segalanya. Padahal, moralitas, etis-tidak etis, adalah milik suatu kelompok saja. Moral atau etika dokter, hanya pas diterapkan di kalangan kedokteran. Moral dan etika guru, hanya pas diterapkan di kalangan guru. Begitu pula moral dan etika polisi dan prajurit, hanya pas di kalangan polisi dan prajurit.